Senin, 06 Agustus 2012

RUMAH ADAT DULOHUPA

Masyarakat Gorontalo memiliki rumah adat yang disebut Dulohupa. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarah kerabat kerajaan pada masa lampau. Dulohupa merupakan rumah panggung yang terbuat dari papan dengan bentuk atap yang artistik khas daerah Gorontalo dan pilar-pilar kayu sebagi hiasannya. Kedua tangganya yang terletak di sisi kiri dan kanan merupakan gambaran tangga adat yang disebut tolitihu. Pada bagian belakang ada anjungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga. Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan. Berfungsi juga sebagai balai musyawarah adat. Nama Dulohupa sendiri merupakan bahasa daerah Gorontalo yang berarti mufakat untuk memprogramkan rencana atau balai musyawarah dari kerabat kerjaaan.
Bentuk rumah asli masyarakat Gorontalo tempo dulu ini, tidak banyak dijumpai. Sekarang ini rumah asli Gorontalo tersebut hanya bisa dijumpai di beberapa tempat. Seperti di seputaran jalan Pulau Kalengkoan, jalan Agus Salim, Kelurahan Huangobotu, Kelurahan Biawau serta di jl Trans Limboto - Isimu. Dapat Anda  jumpai juga di Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat Dulohupa atau yang dikenal dengan nama Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo di tempat ini memiliki luas tanah kurang lebih 500 meter persegi. Dilengkapi dengan taman bunga serta bangunan tempat penjualan souvenir dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama talanggeda. Rumah adat ini sering digunakan sebagai lokasi pagelaran budaya serta pertunjukan seni di Gorontalo. Di dalamnya terdapat berbagai ruang khusus dengan fungsi yang berbeda. Gaya arsitekturnya menunjukkan nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo yang bernuansa islami.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OXY Drinking Water