Entri yang Diunggulkan

Jangan Merapikan Tempat Tidur Sebelum Meninggallkan Kamar Hotel

Apa yang biasanya Anda lakukan sebelum check out dari kamar hotel? Selain memastikan tidak ada barang yang tertinggal, tamu hotel yang baik ...

Senin, 18 Maret 2013

Landscape Budaya dan Peninggalan Arkeologi di Lembah Bamiyan


Afganistan mempunyai dua The World's Heritage, salah satunya adalah peninggalan-peninggalan arkeologi di Hazarajat atau lebih terkenal sebagai Bamiyan Valley.
Unesco secara kelompok menyebutkan tempat ini sebagai Culture Landscape and Archaelogical Remains of The Bamiyan Valley dan diakui sebagai The World's Heritage  pada tahun 2003 dengan kriteria yang sama seperti untuk Borobudur, "Human creative genius; interchange of values, testimony to cultural tradition; significance in human history; heritage associated with events of universal significance." Pengakuan tersebut terjadi,  dua tahun setelah patung-patung raksasa Budha di tempat ini di rusak oleh Taliban pada bulan Maret 2001.

Lembah Bamiyan ini secara regional terdapat di dataran tinggi Hazarajat, suatu pass (jalan tembus di dataran tinggi) di ketinggian 2500 meter yang merupakan satu dari percabangan Jalan Sutra. Panoramanya tentu sangat indah, berbaur dengan nuansa religi jaman awal peradaban. Patung-patung Budha di tempat ini didirikan dari abad pertama sampai abad ke-13.
Patung Budha dari Bamiyan dahulu merupakan monumen yang terdiri dari dua patung Budha yang berdiri dan diukir di sisi sebuah  jurang di lembah Bamiyan, di tengah Afganistan. Lokasi patung berada kurang lebih 230 km arah barat laut Kabul pada ketinggian 2500 meter. Kemungkinan besar patung-patung ini dibuat pada abad ke 5 atau ke 6 dan merupakan perpaduan klasik antara seni gaya Yunani dan seni Budha. Tubuh-tubuh utama ditatah secara langsung dari batu tebing, namun detailnya dibuat dengan lumpur yang dicampur dengan jerami dan dilapisi dengan semacam semen. Lapisan ini yang sebagian besar praktis sudah hilang semenjak dahulu kala, kemudian dicat untuk mewujudkan ekspresi wajah, tangan dan lipatan-lipatan jubah secara mendetil. Bagian bawah tangan patung juga dibuat dari campuran lumpur dan jerami yang sama, sementara didukung dengan kayu-kayu penopang. Diduga bagian wajah patung dibuat dari topeng kayu raksasa.
Karena terletak di jalur Sutra yang menghubungkan Tiongkok dan India dengan dunia barat, Bamiyan berkembang menjadi pusat agama dan filsafat. Daerah ini juga merupakan situs beberapa biara Budha. Daerah ini juga penting karena merupakan tempat berpadu budaya Barat dan Timur untuk menciptakan bentuk-bentuk baru Seni Budha-Yunani. Daerah ini merupakan salah satu pusat Budha yang besar dari abad ke 2 SM sampai masuknya Islam ke lembah ini pada abad ke-9. Para biksu di biara-biara (vihara) tinggal sebagai pertapa di gua-gua kecil yang dibuat di tepi-tepi tebing sepanjang lembah Bamiyan. Banyak dari para biarawan ini menatah patung-patung di dalam gua-gua mereka. Banyak patung-patung Budha dalam pose berdiri maupun duduk yang ukurannya bermacam-macam ditemukan menghadap jurang sedangkan gua-gua ini banyak pula yang dihiasi oleh para bhiksu dengan fresco yang berwarna-warni.
Dua patung utama adalah Budha dalam pose berdiri yang berukuran 55 dan 37 meter, contoh-contoh patung Budha berdiri yang dipahat dan terbesar di dunia.
Seorang peziarah Buddhis dari Tiongkok yang bernama Hsuan-tsang (Xuanzang) melewati daerah ini sekitar tahun 630 dan menulis bahwa Bamiyan adalah sebuah pusat Budha yang berkembang dengan lebih dari sepuluh biara dan lebih dari seribu bhiksu. Ia juga menulis bahwa kedua patung Budha ini dihiasi dengan emas dan batu permata mulia.
Ketika Mahmud dari Ghazni menaklukkan Afganistan pada abad ke-12, patung-patung Budha dan fresco-fresco tetap terlestarikan dari pengrusakan.
Pada Juli 1999, Mullah Mohammed Omar menyerukan agar patung Budha Bamiyan dilestarikan karena potensial sebagai sumber pendapatan dari pengunjung Internasional.
Pada tahun 2001 Mahkamah Agung Taliban memutuskan bahwa semua patung di Afganistan harus dihancurkan. Akhirnya pada tahun 2001, setelah bisa terlestarikan selama lebih dari 1500 tahun, patung-patung ini kemudian dihancurkan dengan dinamit dan tembakan tank. Namun pekerjaan ini tidaklah semudah apa yang dipikirkan, karena keduanya dipahat pada tebing jurang, lekat sekali pada gunung.
Meski kedua patung-patung Budha terbesar ini hampir seluruhnya rusak, sketsa figurnya dan beberapa ciri khasnya masih tampak. Bahkan para pengunjung masih bisa menjelajahi gua-gua para bhiksu dan lorong-lorong yang menghubungkan gua-gua ini.
Pada bulan Desember 2004, para peneliti Jepang menemukan bahwa lukisan tembok Bamiyan sebenarnya dilukis antara abad ke-5 dan abad ke-9, bukan antara abad ke-6 dan ke 8 seperti diduga sebelumnya. Penemuan ini dilakukan dengan menganalisis isotop radioaktif yang terkandung dalam serat-serat jerami yang ditemukan di bawah lukisan. Penemuan selanjutnya diharapkan akan terjadi setelah membandingkan tanggal-tanggal yang tertera di lukisan dan gaya-gaya lukis.
Pada 8 September 2008, seorang arkeolog mengumumkan penemuan patung "Budha tidur" (menggambarkan masuknya Budha ke nirwana) setinggi 19 meter. Penemuan ini telah mengkonfirmasi catatan Xuanzang mengenai Budha besar yang berposisi tidur di wilayah ini 14 abad yang lalu.


sumber: berbagai sumber 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OXY Drinking Water