Jumat, 21 Juni 2013

Ayem Tentrem Kehidupan Di Desa Wisata Ngadas, Malang


Desa Ngadas berada di dalam wilayah teritori Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS). Desa Ngadas merupakan Desa tertinggi di Jawa dikarenakan topografi Desa Ngadas sendiri adalah pegunungan dengan iklim montana. Suhu di sekitar Desa Ngadas berkisar 0°C hingga 20°C. Desa ini hanya berjarak satu kilometer dari lautan pasir gunung Bromo. Berpenduduk sekitar 1500 jiwa atau sekitar 440 kepala keluarga dengan sebagian besar bekerja sebagai petani yang mata pencahariannya adalah bercocok tanam sayuran dan holtikultura. Untuk menuju desa tersebut dibutuhkan waktu lebih kurang dua jam dengan melewati jalanan yang sempit, menanjak dan berliku-liku.
Kehidupan masa lampau dapat terlihat di tempat ini. Filosofinya adalah sederhana, hidup damai ayem tentrem dengan sesama dan lingkungannya, Setiap tamu harus dihormati karena filosofinya siapapun orang dengan agama apa pun yang datang ke Ngadas adalah saudara.
Hampir sebagian besar penduduknya memiliki kebun yang cukup luas di lereng-lereng gunung yang mempunyai kemiringan lebih dari 45 derajat. Selain berkebun, masyarakat Ngadas juga memiliki pekerjaan sampingan di bidang peternakan yakni ternak sapi.
Desa  ini masyarakatnya enam puluh persen memeluk agama Budha, tiga puluh persen beragama Islam dan selebihnya beragama Hindu. Walaupun terdapat perbedaan agama, namun masyarakatnya hidup rukun, gotong royong dan saling toleransi. Pada saat umat Budha merayakan hari besar atau acara keagamaan, pemeluk agama yang lain ikut membantu kegiatan tersebut, begitu sebaliknya. Ada tiga fasilitas tempat ibadah di Desa  Wisata Ngadas yakni vihara, mushalla, dan pura. Masing masing bangunan ini mempunyai keunikan karena menyesuaikan kebudayaan yang terdapat di desa tersebut.
Di Ngadas terdapat upacara adat unik yang masih dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat Tengger khususnya masyarakat Ngadas sampai sekarang yakni upacara karo. Karo adalah upacara yang dilaksanakan untuk menghormati seluruh leluhur yang ada di daerah Tengger. Ada empat unsur yang tidak boleh ditinggalkan dalam mantra persembahan, yakni Bopo Kuoso, ibu pertiwi, pedanyangan dan sumber air. Hal ini menunjukkan penghormatan mereka terhadap bumi tempatnya berpijak. Selain karo, ritual lain yang melibatkan seluruh warga masyarakat Tengger adalah pujan kapat, pujan kawolu, pujan kasongo dan pujan kasada. Jika sudah genap satu windu dilakukan upacara unan-unan yang bertujuan menyelamati gunung-gunung berapi supaya tidak memuntahkan laharnya. Ada hal unik lagi yang dapat di temui di Desa Ngadas dalam hal berpakaian yakni masyarakatnya hanya menggunakan sarung yang dililitkan untuk melindungi tubuh mereka dari dinginnya udara pegunungan. Di perkampungan ini banyak kesenian atau atraksi rakyat yakni Kuda lumping, Bantengan, dan Kuda Kencak. Selain keunikan adat istiadatnya, Desa Ngadas memiliki ragam potensi wisata alam yang sangat menarik yakni Coban Trisula dan Ranu Pani serta masih banyak lainnya. 
Perjalanan ke Ngadas senantiasa menarik sekalipun secara fisik meletihkan. Melalui  jalanan makadam berhutan, Anda akan di suguhi pemandangan yang memang luar biasa indah.
Pengunjung bisa mendapatkan penginapan (rumah sewa) jika ingin bermalam, dapat juga menikmati matahari terbit di Pananjakan atau Bromo, tracking Cemoro Lawang-Bromo (sekitar 3km, 1 jam sampai lereng Bromo), ikut upacara kasodo yang diselenggarakan 1 tahun sekali oleh penduduk sekitar, ke Museum Bromo di Cemoro Lawang, keliling naik kuda (rute Cemoro-Lawang-Lereng Bromo, nongkrong sore sambil makan bakso didepan hotel Cemoro Indah atau melihat pemandangan Lava di Gunung Bromo.

1 komentar:

  1. Pemandangan di Bromo memang sangat menakjubkan. Ayo siapa lagi yg mau ke Bromo kami siap antar. Info : 081225269268

    BalasHapus

OXY Drinking Water