Jumat, 14 Juli 2017

Yogyakarta (Part 1) : Taman Sari

Bulan lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke Yogyakarta. Saya sudah beberapa kali ke Yogyakarta, tapi semenjak bersuami perjalanan lebih sering dengan tujuan Solo - Wonogiri. Kali ini ketika libur lebaran saya mengunjungi (kembali) Taman Sari dan Museum Ullen Sentalun. Dari Kediri, saya dan suami berkendara sekitar pukul 4.00 pagi.

Hari itu hari Jumat. Kami berkendara menuju jalan Pamularsih, Yogyakarta. Perjalanan dari Kediri ke Yogyakarta memakan waktu sekitar 10 jam. Sepanjang jalan Puji Tuhan lancar. Justru arus balik yang terlihat padat.


Akhirnya sampailah kami di tujuan. Keesokan harinya kami mengawali liburan dengan mengunjungi Taman Sari. Karena musim liburan, sudah dapat dipastikan tempat parkir penuh. Finally kami kebagian parkir di sepanjang jalan ke arah Taman Sari. Beruntung kami datang sedikit lebih pagi, bila lebih siang, bisa-bisa kami mendapat tempat parkir yang lumayan jauh dari Taman Sari. Taman Sari adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di Taman Sari ada sebuah umbul yang disebut Umbul Binangun, merupakan kolam pemandian bagi Sultan, permaisuri, para istri (garwo ampil), serta para putri-putri raja. Kompleks ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi. Untuk sampai ke dalam tempat ini disediakan dua buah gerbang, satu di sisi timur dan satunya di sisi barat. Di dalam gerbang ini terdapat jenjang yang menurun. Di kompleks Umbul Pasiraman terdapat tiga buah kolam yang dihiasi dengan mata air yang berbentuk jamur. Di sekeliling kolam terdapat pot bunga raksasa. Selain kolam juga terdapat bangunan di sisi utara dan di tengah sebelah selatan. Bangunan di sisi paling utara merupakan tempat istirahat dan berganti pakaian bagi para puteri dan istri (selir). Di sebelah selatannya terdapat sebuah kolam yang disebut dengan nama "Umbul Muncar". Sebuah jalan mirip dermaga menjadi batas antara kolam ini dengan sebuah kolam di selatannya yang disebut dengan "Blumbang Kuras". Di selatan Blumbang Kuras terdapat bangunan dengan menara di bagian tengahnya. Bangunan sayap barat merupakan tempat berganti pakaian dan sayap timur untuk istirahat Sultan. Menara di bagian tengah, konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling mengesankan sultan akan di panggil ke menara. Di selatan bangunan tersebut terdapat sebuah kolam yang disebut dengan "Umbul Binangun", sebuah kolam pemandian yang dikhususkan untuk Sultan dan Permaisurinya saja. 



Di timur umbul pasiraman terdapat sebuah halaman bersegi delapan. Di halaman yang dihiasi dengan deretan pot bunga raksasa ini berdiri 4 buah bangunan yang serupa. Bangunan ini bernama "Gedhong Sekawan". Tempat ini digunakan untuk istirahat Sultan dan keluarganya. Di setiap sisi halaman terdapat pintu yang menghubungkannya dengan halaman lain. Di sebelah timur halaman bersegi delapan tersebut terdapat bangunan yang disebut dengan "Gedhong Gapura Panggung". Bangunan ini memiliki empat buah jenjang, dua di sisi barat dan dua lagi di sisi timur. Gedhong Gapura Panggung ini melambangkan tahun dibangunnya Taman Sari yaitu tahun 1684 Jawa (kira-kira tahun 1758 Masehi). Selain itu di bangunan ini juga terdapat relief ragam hias seperti di Gedhong Gapura Hageng. Sisi timur bangunan ini sekarang menjadi pintu masuk situs Taman Sari.


Ada kekonyolan terjadi dalam kunjungan kami kali ini. Berhubung kunjungan terakhir ke Taman Sari yang pernah saya lakukan sudah sangat lama, saya lupa jalan yang menghubungkan ke situs Sumur Gumuling atau Masjid bawah tanah. Sementara suami bahkan belum pernah sekalipun betkunjung ke Taman Sari. Saya hanya ingat bahwa ada satu jalan yang lebih tinggi dari rumah-rumah penduduk. Dengan bantuan google map akhirnya kami menemukan lokasi tersebut meski harus mengitari pasar Ngasem yang lumayan jauh 😅. Dalam pencarian ini, kami bersama dua orang bule. So... lumayan buat melatih bahasa Inggris saya yang sudah lumayan kacau 😆. 

Pertama-tama kami menjumpai sebuah gedung berlantai dua, "Gedhong Kenongo". Gedung terbesar di bagian pertama ini cukup tinggi. Dari anjungan tertingginya orang dapat mengamati kawasan Keraton Yogyakarta dan sekitarnya sampai ke luar benteng baluwarti. Konon Gedhong Kenongo terdiri dari beberapa ruangan dengan fungsi berbeda. Di sebelah selatan Pulo Kenongo terdapat deratan bangunan kecil yang disebut dengan"Tajug". Bangunan ini merupakan menara ventilasi udara bagi terowongan bawah air. Di sebelah barat Pulo Kenongo terdapat bangunan berbentuk lingkaran seperti cincin yang disebut "Sumur Gumuling". Bangunan berlantai 2 ini hanya dapat dimasuki melalui terowongan bawah air saja. Sumur Gumuling pada masanya juga difungsikankan sebagai Masjid. Di kedua lantainya ditemukan ceruk di dinding yang konon digunakan sebagai mihrab, tempat imam memimpin salat. Di bagian tengah bangunan yang terbuka, terdapat empat buah jenjang naik dan bertemu di bagian tengah. Dari pertemuan keempat jenjang tersebut terdapat satu jenjang lagi yang menuju lantai dua. Di bawah pertemuan empat jenjang tersebut terdapat kolam kecil yang konon digunakan untuk berwudu.



Usai dari masjid bawah tanah kunjungan kami ke Taman Sari pun berakhir. Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan menuju Kaliurang, tepatnya ke Museum Ullen Sentalun.


OXY Drinking Water