Entri yang Diunggulkan

Jangan Merapikan Tempat Tidur Sebelum Meninggallkan Kamar Hotel

Apa yang biasanya Anda lakukan sebelum check out dari kamar hotel? Selain memastikan tidak ada barang yang tertinggal, tamu hotel yang baik ...

Jumat, 31 Agustus 2012

STUPA SUMBERAWAN

Candi Sumberawan hanya berupa stupa, berlokasi di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia. Dengan jarak sekitar 6 km barat laut Candi Singosari. Jika menggunakan angkutan umum, dari pasar Singosari naik MPU ke Toyomarto turun di Stupa Sumberawan. Jalan menuju candi ini sudah beraspal. Bagi Anda yang mengunakan sepeda motor bisa langsung sampai di lokasi candi. Namun bila menggunakan mobil, Anda harus memarkirnya di tepi jalan besar dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kira-kira sejauh 700 meter, sebab lebar jalan masuk ke lokasi candi hanya sekitar 1 meter. Jalan tanah semi makadam, diapit oleh sawah dan sungai kecil dari sumber air di dekat candi. Setelah melewati jalan sempit ini, dari kejauhan Anda akan melihat rerimbunan pohon pinus yang cukup lebat dan teduh, disitulah Stupa Sumberawan berdiri.
Candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 m lebar 6,25 m dan tinggi 5,23 m, dibangun pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah, lokasinya berada di antara pepohonan dan sawah penduduk. Disisi selatan terdapat telaga yang jernih airnya. Karena di dekat stupa tersebut banyak didapat sumber yang terkumpul kepada sumber yang paling besar dan membentuk Rawan (telaga), penduduk setempat menyebutnya dengan nama Candi Rawan (Candi Telaga).
Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904. Pada tahun 1935 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala. Pada zaman Hindia Belanda pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat. Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief. Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujursangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Karena ada beberapa kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Diduga dulu pada puncaknya tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali. Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan didalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa sesungguhnya. Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikan untuk pemujaan.
Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca yang disebut pada pupuh 35 bait ke 4 yaitu sebagai berikut

Karananin acru mankat i huwusnira mpu masgeh bhawisyang
Laris,
Maluy i kucewakan/datn i sinhasari matutur manankil/mark, nrpati huwus mamuspa ri dalm/sudarmma sakatustanin twas ginon. Hana ni kdung bhiru, kacurangganan/mwan i burn lanonyenitun. 

Artinya

".... sebabnya terburu buru berangkat, setelah dijamu bapa asrama karena ingat akan giliran menghadap di balaikota Singosari sehabis menyekar di candi makam, nafsu kesukaan bermanja-manja mengisap sari pemandangan di Kedungbiru Kasurangganan dan Bureng"

Tempat tersebut telah dikunjungi Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Alternatif penamaan Kasurangganan yang identik dengan daerah Sumberawan sekarang karena daerah yang disebut diatas yaitu Kedungbiru dan Bureng, masing-masing terletak di selatan daerah Sumberawan. Kedungbiru sekarang berubah menjadi dukuh Mbiru, sedangkan Bureng diduga berada disebelah utara desa Karangploso. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya) dapat diperkirakan bahwa Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai 15 masehi yaitu pada periode kerajaan Majapahit. Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OXY Drinking Water